Usia 25 itu aneh, ya.
Kadang aku merasa sudah dewasa, tapi sering juga merasa seperti anak kecil yang pura-pura mengerti jalan hidup. Ada hari aku bangun dengan semangat, merasa dunia mungkin bisa kutaklukkan. Tapi ada juga hari di mana aku merasa kosong, seperti berjalan tanpa arah.
Aku menulis ini sebagai diary, bukan untuk siapa-siapa.
Hanya untuk merapikan isi kepala yang belakangan makin penuh.
Sebagai programmer dan animator, hidupku sering berada di tengah-tengah logika dan imajinasi. Siang hari aku menulis kode yang harus rapi, harus patuh pada aturan, harus berjalan tanpa error. Tapi malamnya, aku menggambar, membuat gerakan, menciptakan sesuatu yang bebas dan tidak selalu masuk akal.
Kadang aku berpikir, dua dunia itu mencerminkan diriku.
Separuh ingin stabil, separuh ingin terbang.
Dan di antara semua itu, ada persoalan cinta.
Usia 25 membuatnya rumit, bukan karena tidak ada cinta, tapi karena cinta tumbuh bersamaan dengan tuntutan hidup. Ada orang yang aku sayangi, tapi kami sama-sama sibuk mengejar sesuatu. Kami sama-sama ingin “menjadi seseorang” dulu, sebelum benar-benar bisa berlabuh. Kadang aku bertanya-tanya, apa cinta harus selalu dinomorduakan? Tapi kadang aku juga paham, usia 25 bukan hanya tentang hati, tetapi tentang masa depan.
Lalu ada ambisi.
Ambisi yang dulu terasa besar dan jelas… kini seperti kabur.
Aku dulu punya banyak cita-cita: menjadi programmer hebat, membuat film animasi sendiri, membangun studio kecil, atau setidaknya membuat sesuatu yang bisa kubanggakan.
Tapi hidup tidak selalu berjalan lurus.
Dan aku tidak bisa menghindari kenyataan bahwa akhir-akhir ini, semuanya terasa seperti kembali ke titik 0.
Bukan karena aku tidak berusaha.
Bukan juga karena aku kurang mampu.
Tapi hidup punya caranya sendiri untuk mengacak-acak rencana.
Ada hari aku merasa gagal.
Ada hari aku merasa stagnan.
Ada hari aku merasa tidak tahu apa yang sedang kukejar.
Namun anehnya, titik 0 tidak sepenuhnya buruk.
Titik 0 adalah tempat kita berhenti, menarik napas, melihat kembali apa yang penting.
Titik 0 adalah tempat kita jujur, tentang apa yang membuat kita lelah, apa yang membuat kita bangga, apa yang membuat kita takut.
Titik 0 adalah tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura kuat.
Dan mungkin… menulis seperti ini adalah caraku berdamai dengan titik 0 itu.
Aku menulis bukan karena semuanya jelas, tapi justru karena banyak yang tidak jelas.
Aku menulis bukan karena hidup teratur, tapi karena hidup berantakan.
Aku menulis bukan karena ingin memberi jawaban, tetapi karena aku sedang mencari jawaban itu.
Usia 25 mengajarkanku satu hal:
Tidak apa-apa tidak tahu semuanya.
Tidak apa-apa tersesat sedikit.
Tidak apa-apa kembali ke titik 0, selama aku tidak berhenti berjalan.
Hari ini tidak spektakuler. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kabar mengejutkan. Hanya aku, pekerjaanku, cintaku, ambisiku… dan perasaan “mulai lagi dari awal”.
Tapi mungkin, justru di sanalah indahnya hidup.
Karena setiap kali kembali ke titik 0, aku diberi kesempatan untuk menjadi versi baru dari diriku.
Dan malam ini, aku menulis itu, perlahan, jujur, apa adanya.
Karena meski dunia terasa berat, aku ingin tetap percaya bahwa aku bisa membangun ulang semuanya… bahkan jika harus dimulai dari titik 0 lagi.
No comments:
Post a Comment