Hari ini aku bangun seperti biasa, agak terlambat lima menit dari alarm pertama, lalu menunda alarm kedua, dan akhirnya bangun karena rasa bersalah pada diriku sendiri. Usia 25 ternyata penuh dengan negosiasi kecil seperti ini: antara rasa ingin istirahat lebih lama… dan rasa takut tertinggal.
Pagi selalu dimulai dengan hal-hal sederhana: membuat kopi, mengecek Slack atau WhatsApp klien, lalu menyiapkan mental untuk coding. Kadang aku merasa hidupku terlalu monoton, seperti baris-baris kode yang harus berjalan sesuai aturan.
Tapi entah kenapa, aku mulai menemukan kehangatan dalam rutinitas kecil itu.
Ada rasa nyaman saat jari-jariku menyentuh keyboard, ketika aku berhasil menyelesaikan bug yang sudah tiga jam membuatku ingin menyerah. Ada kepuasan aneh yang tidak bisa dijelaskan, perasaan bahwa meski dunia di luar berantakan, setidaknya satu fungsi kecil berhasil berjalan.
Sore hari biasanya lebih ramai. Deadline mulai terasa mendekat, notifikasi datang bertubi-tubi, dan aku yang juga punya passion sebagai animator, kadang mencuri waktu lima belas menit hanya untuk menggambar sketsa kecil. Tidak besar, tidak penting, hanya sebuah garis dan lengkung yang mengingatkanku kenapa dulu aku suka dunia animasi.
Usia 25 membuatku sadar kalau hidup bukan hanya tentang pencapaian besar.
Kadang keajaiban justru muncul dari kebiasaan kecil yang menghidupkan kita.
Seperti bagaimana aku sering menatap langit sore dari jendela kamar.
Atau bagaimana musik indie yang pelan membuat laptopku terasa seperti ruang yang aman.
Atau bagaimana chat singkat dari seseorang yang kusukai bisa mengubah seluruh mood hari itu.
Cinta di usia 25 juga aneh.
Tidak sesederhana dulu, tapi tidak rumit juga.
Lebih seperti dua orang yang sama-sama lelah menjalani hidup, tapi tetap saling menyapa karena dunia sudah cukup berat tanpa kehilangan satu sama lain.
Kadang kami tidak bicara banyak, hanya berbagi cerita tentang pekerjaan, tentang hari yang panjang, tentang ide kecil yang belum sempat dieksekusi. Tapi justru itu yang membuatku merasa ditemani. Tidak perlu romantis besar-besaran, cukup hadir.
Di sela-sela rutinitas itu, aku sering bertanya dalam hati:
"Apa semua ini cukup? Apa aku sudah berjalan ke arah yang benar? Apa aku akan bahagia dengan hidup seperti ini?"
Dan jujur saja, aku belum tahu jawabannya.
Tapi setiap kali aku merasa hidup terlalu cepat, terlalu berat, atau terlalu kosong, aku kembali pada hal-hal kecil yang membuatku tetap bertahan.
Secangkir kopi.
Sebuah animasi pendek yang kubuat tanpa tujuan jelas.
Sepasang mata yang kubahas dalam cerita cintaku.
Sebuah baris kode yang akhirnya berjalan.
Atau tulisan kecil seperti ini, yang membuktikan bahwa aku masih disebut hidup.
Mungkin itulah keindahan usia 25.
Walaupun terasa kacau, melelahkan, dan penuh tuntutan… selalu ada titik-titik hangat yang membuat kita tetap bergerak.
Hari ini tidak sempurna.
Tidak luar biasa.
Tidak juga mudah.
Tapi ada momen-momen sederhana yang membuatku tersenyum, walau pelan.
Dan sepertinya… itu cukup untuk hari ini.
No comments:
Post a Comment