Ada satu hal yang akhir-akhir ini terus berputar di kepalaku:
keinginan menikah tahun depan.
Bukan karena aku terburu-buru.
Bukan karena teman-teman sudah pada menikah.
Bukan karena tuntutan keluarga.
Tapi karena aku menemukan seseorang yang rasanya… pulang.
Seseorang yang sederhana tapi hangat, yang tidak selalu mengerti hidupku tapi tidak pernah berhenti mencoba. Yang tidak pernah meminta aku menjadi sempurna, hanya memintaku hadir. Dan di usia 25 ini, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak kutemukan saat usia 20:
keinginan untuk membangun hidup, bukan hanya hubungan.
Tapi setiap kali aku membayangkan menikah, ada sesuatu di dalam dada yang terasa berat.
Bukan soal cinta, cinta itu ada.
Yang berat justru realitasnya.
Keuangan.
Tabungan.
Pekerjaan yang kadang stabil, kadang tidak.
Mimpi yang masih jauh.
Ambisi yang belum jadi apa-apa.
Aku ingin menikah, tapi aku juga ingin memberi rasa aman. Aku ingin memberi kehidupan yang baik, bukan sekadar bertahan. Aku ingin menjadi pasangan yang bisa diandalkan, bukan seseorang yang hanya punya cinta tanpa perencanaan.
Dan di sinilah konflikku dimulai.
Ada hari-hari ketika aku merasa bisa melakukannya, bahwa aku mampu mengejar karier sebagai programmer dan animator, mampu menabung, mampu membangun masa depan pelan-pelan. Aku percaya bahwa aku akan sampai ke sana.
Tapi ada juga hari-hari ketika semuanya terasa sulit.
Ketika saldo tabungan tidak bergerak, ketika pekerjaan terasa tidak cukup, ketika proyek gagal, ketika mimpi terasa seperti bintang yang jauh… terlalu jauh.
Ada malam-malam di mana aku menatap plafon kamar dan bertanya:
“Apa aku bisa membangun masa depan dengan kondisi seperti ini?”
“Apa aku pantas melangkah ke pernikahan kalau hidupku saja belum mapan?”
“Apa aku cukup untuk orang yang kusayangi?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang seperti ombak:
kadang kecil, kadang menghantam keras sampai aku tidak tahu harus berdiri bagaimana.
Tapi di sela-sela keraguanku, ada hal lain yang pelan tapi kuat:
harapan.
Aku ingat bagaimana Fifit (semoga kamu baca ini) pernah bilang,
“Aku nggak butuh kamu sempurna. Aku cuma butuh kamu berusaha.”
Dan entah kenapa, kalimat itu menenangkan.
Karena ternyata… aku tidak harus selesai dulu untuk memulai.
Aku boleh memulai perjalanan ini sambil belajar.
Sambil memperbaiki diri.
Sambil mencari arah.
Sambil menata keuangan sedikit demi sedikit.
Karena pernikahan bukan tentang menunggu semuanya sempurna.
Tapi tentang dua orang yang saling menguatkan, bahkan saat sama-sama belum sampai tujuan.
Dan soal mimpi yang masih jauh itu…
Menjadi animator yang karyanya dikenal.
Menjadi programmer yang membuat sesuatu yang berarti.
Membangun studio kecil.
Menghasilkan film animasi sendiri.
Memiliki kehidupan yang stabil dan membanggakan.
Kadang mimpi itu terasa seperti langit: luas, indah, tapi sulit digapai.
Tapi mungkin… mimpi memang tidak harus dicapai sekaligus.
Mungkin mimpi itu dicapai melalui langkah-langkah kecil:
satu baris kode, satu gambar sketch, satu proyek kecil, satu kegagalan, satu keberhasilan kecil yang sering kita abaikan.
Dan kalau aku jujur, hidupku memang pernah membawaku kembali ke titik 0.
Tapi titik 0 bukan akhir.
Titik 0 adalah awal yang bersih, awal yang mungkin aku butuhkan.
Titik 0 memberiku kesempatan untuk bertanya lagi:
Apa yang benar-benar aku inginkan?
Siapa yang ingin aku perjuangkan?
Mimpi mana yang ingin aku hidupkan kembali?
Semua itu membuatku menyadari:
Mungkin aku memang belum mapan.
Mungkin aku belum sampai di mana pun.
Mungkin mimpiku masih jauh.
Tapi aku sedang berjalan.
Dan seseorang di luar sana bersedia berjalan bersamaku.
Bukankah itu sudah cukup untuk mulai percaya bahwa aku bisa?
Pernikahan bukan tentang kesiapan yang sempurna,
tapi tentang kesiapan untuk tumbuh bersama.
Keuangan bisa dikejar.
Karier bisa dibangun.
Mimpi bisa didekatkan.
Yang penting adalah keberanian untuk melangkah, meski takut.
Dan aku… aku sedang belajar melangkah itu.
Jadi…
Apa aku bisa?
Mungkin belum sepenuhnya.
Mungkin masih jauh.
Mungkin masih banyak jatuh bangun.
Tapi aku akan mencoba.
Untuk cinta.
Untuk masa depan.
Untuk diriku sendiri.
Dan itu, kurasa, adalah awal dari segalanya.
No comments:
Post a Comment