Tentang Merasa Sangat Spesial dan Juga Sangat Tidak Berharga di Waktu yang Sama

  • 0

Ada hal aneh tentang menjadi manusia di usia 25:

kadang aku bangun dengan perasaan seperti Tuhan menciptakanku dengan tangan-Nya sendiri, menaruh sesuatu yang unik di dadaku, api kecil yang membuatku yakin bahwa aku bisa mengubah dunia, atau setidaknya mengubah hidupku sendiri.

Di hari-hari seperti itu, aku merasa ringan.
Rasanya seperti dunia menghamparkan jalan lebar untukku.
Mimpi tidak terlihat jauh; justru terasa dekat, seperti hanya menunggu untuk dipetik.
Aku merasa hidupku punya tujuan besar, meski aku belum tahu bentuknya.

Ada kekuatan yang sulit dijelaskan, seperti suara lembut di dalam hati yang bilang:

“Kamu diciptakan berbeda. Kamu mampu. Kamu kuat. Kamu istimewa.”

Di momen-momen seperti itu, aku bisa membayangkan semua yang ingin kucapai,
menjadi programmer yang membuat karya berarti,
menjadi animator yang menggugah dunia,
menjadi seseorang yang tersenyum di pelaminan tahun depan
tanpa takut akan masa depan.

Tapi lucunya…
hari lain terasa seperti kebalikannya.

Ada waktu ketika aku menatap wajahku sendiri di cermin dan bertanya:

“Sebenarnya kamu itu siapa?”
“Apa kamu sungguh punya potensi, atau itu hanya ilusi yang kamu ciptakan untuk bertahan?”

Di hari-hari seperti itu, aku merasa kecil.
Bukan kecil yang lucu, tapi kecil yang hilang.
Seperti suaraku tidak berarti, impianku terlalu jauh, dan kehadiranku… tidak terlihat.

Keuangan yang belum stabil, karier yang naik turun, mimpi yang masih samar, tuntutan hidup yang menekan pundak, semuanya seperti mengatakan hal yang sama:

“Mimpi itu bukan untuk manusia sepertimu.”

Dan rasanya sakit.
Bukan karena mimpi itu jauh, tetapi karena aku merasa aku tidak pantas meraihnya.
Sebatas memikirkannya pun membuatku takut kecewa.

Ada malam-malam ketika aku merasa aku hanya berjalan tanpa arah, menumpuk ambisi yang bahkan tidak tahu bagaimana mencapainya. Ada hari ketika aku merasa dunia bergerak terlalu cepat dan aku tetap diam, tertinggal, terjebak dalam versiku yang belum berkembang.

Tapi begitulah manusia, kan?
Tuhan menciptakan kita dengan lapisan yang rumit,
ada hari kita merasa seperti pahlawan,
ada hari kita merasa seperti bayangan.

Dan keduanya valid.
Keduanya manusiawi.

Mungkin aku merasa spesial karena memang ada sesuatu yang Tuhan titipkan padaku,
kemauan, empati, mimpi, atau hanya hati yang tidak pernah mau benar-benar menyerah.

Tapi mungkin aku juga merasa tidak berharga karena aku sedang belajar.
Belajar memahami hidup.
Belajar menerima kelemahan.
Belajar berjalan meski gelap.
Belajar percaya pada diri sendiri bahkan ketika tidak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Perasaan “aku istimewa” dan “aku tidak berharga” adalah dua sisi dari perjalanan yang sama.
Dua sisi yang sedang membentukku.
Dua sisi yang—meski menyakitkan—sebenarnya menunjukkan bahwa aku masih punya harapan.
Karena orang yang benar-benar berhenti tidak lagi merasa apa-apa.

Dan malam ini, saat aku menulis ini, aku sadar:

Aku bukan manusia paling hebat.
Tapi aku juga bukan manusia paling tidak berharga.
Aku hanya manusia, yang sedang mencoba.

Dan mungkin…
itu cukup dulu untuk saat ini.

Karena perjalanan menuju mimpi, pernikahan, dan hidup yang ingin kubangun
akan selalu dimulai dari satu hal kecil:

Keyakinan bahwa aku layak mencoba lagi besok.

No comments:

Post a Comment