Ada hal lucu yang sering kulupakan tentang hidup:
bahwa sesuatu yang dulu terasa pahit sampai menusuk tulang… entah bagaimana bisa terasa lucu ketika sudah menjadi kenangan.
Lucu bukan karena menyenangkan,
tapi karena rasanya tidak mungkin aku bisa melewati hari-hari sekelam itu dan tetap duduk di sini, menuliskannya dengan napas yang lebih tenang.
Dan salah satu kenangan itu datang dari masa ketika usiaku baru 21 tahun.
Bayangkan saja,
di usia yang masih sangat muda, ketika banyak orang baru mulai bingung mencari arah,
aku sudah berada jauh di setengah perjalanan mimpiku.
Aku bekerja keras, menabung mati-matian, menolak hiburan, mengorbankan waktu,
dan perlahan-lahan, angka di tabunganku naik seperti sesuatu yang ajaib.
Hingga suatu hari, angka itu mencapai 200 juta rupiah.
Itu bukan jumlah kecil.
Bahkan untuk orang yang sudah dewasa pun itu adalah pencapaian.
Tapi untuk seorang anak 21 tahun?
Itu seperti sedang memegang dunia.
Dan aku benar-benar percaya aku bisa mencapai 1 miliar,
mimpi besarku waktu itu.
Mimpi yang kurawat sejak lama.
Mimpi yang membuatku tidak takut bekerja dua kali lipat.
Mimpi yang membuatku percaya bahwa aku “anak spesial yang Tuhan beri jalan khusus”.
Tapi di balik rasa bangga itu… ada sesuatu yang perlahan tumbuh:
keserakahan.
Bukan yang besar dan jahat seperti di film-film.
Justru yang kecil,
yang pelan, yang halus, yang meyakinkan.
Keserakahan yang membuatku percaya bahwa aku bisa melipatgandakan uang itu dengan cepat.
Keserakahan yang membuatku berpikir aku tidak akan jatuh.
Keserakahan yang berkata,
“Ayo sedikit lagi. Kamu kan hebat. Kamu kan spesial.”
Dan kemudian…
satu langkah salah.
Hanya satu keputusan kecil.
Satu kelengahan yang sekarang terasa bodoh sekali.
Selesai sudah.
Dalam waktu yang bahkan tidak masuk akal,
semua yang kukumpulkan dengan keringat,
200 juta itu, seluruh kerja keras 2 tahun, mimpiku menuju 1 miliar, lenyap begitu saja.
Tidak dicuri.
Tidak jatuh karena bencana.
Bukan karena orang lain.
Lenyap karena aku sendiri.
Lenyap karena keserakahan yang kubiarkan tumbuh terlalu dekat.
Saat itu, dunia runtuh di depan mata.
Aku jatuh bukan dari lantai satu, tapi dari puncak gedung yang kubangun sendiri.
Rasanya seperti paru-paruku hilang.
Setiap hari seperti menelan batu.
Aku tidak berani melihat angka rekeningku.
Aku tidak berani menatap diriku sendiri.
Dan bagian terburuknya?
Aku tahu… aku bisa menghindarinya.
Kini, beberapa tahun berlalu, aku bisa menertawakan kebodohanku.
Tawa getir, tentu saja.
Tawa yang masih terasa pedih di tepiannya.
Tapi tawa tetap tawa.
Lucu—karena ternyata, aku masih hidup setelah jatuh sedalam itu.
Lucu—karena aku pernah merasa dunia berakhir padahal hidup belum dimulai.
Lucu—karena kesalahan itu, yang dulu menghancurkanku, kini jadi cerita yang membentukku.
Namun kenyataan tetap kenyataan:
mimpi itu kini terasa jauh lebih jauh.
Aku tidak lagi berada di titik 200 juta.
Aku bahkan tidak lagi berada di titik nol,
aku sempat berada di bawahnya.
Dan lebih sulit lagi, hidupku sekarang bukan milikku sepenuhnya.
Dulu, kalau aku gagal, cukup aku yang menanggung.
Kalau aku hancur, cukup aku yang remuk.
Tapi sekarang berbeda.
Sekarang ada seseorang yang akan ikut melewati jembatan bersamaku.
Ada masa depan yang ingin kubangun bersama.
Ada rencana menikah.
Ada keluarga yang menaruh harapan.
Ada hidup lain yang akan ikut terguncang jika aku jatuh lagi.
Dan jembatan yang dulu kuat, bebas, luas,
kini terasa rapuh.
Bukan karena aku lemah, tapi karena tanggung jawabku bertambah.
Namun meski mimpi itu menjauh, meski langkahku kini lebih pelan,
aku belajar sesuatu yang tidak akan kupelajari jika aku tidak jatuh:
Bahwa mimpi yang jauh bukan alasan untuk berhenti.
Bahwa jembatan rapuh bukan alasan untuk mundur.
Bahwa aku tidak harus berlari.
Cukup berjalan, perlahan, tapi pasti.
Dan yang terpenting:
Aku tidak lagi melintasinya sendirian.
Ada seseorang di sampingku,
yang mungkin tidak pernah tahu pahitnya kehilangan 200 juta di usia 21,
tapi tahu bagaimana memegang tanganku ketika aku ragu.
Yang tidak menuntutku menjadi sempurna,
tapi berharap aku tidak menyerah.
Mimpi itu memang lebih jauh sekarang.
Tapi aku lebih kuat.
Lebih bijak.
Lebih hati-hati.
Lebih manusia.
Dan mungkin…
perlahan-lahan…
aku bisa menertawakan semua ini lagi suatu hari nanti,
dengan tawa yang lebih lapang, lebih dewasa, lebih ikhlas.
Sebab begitulah hidup.
Pahit saat dijalani,
lucu saat diceritakan,
berharga saat dipahami.
No comments:
Post a Comment