Ada satu hal yang belum kuceritakan,
sesuatu yang membuat kejatuhanku waktu itu terasa lebih gelap,
tapi juga membuat kebangkitanku jauh lebih berarti.
Saat usiaku 21 tahun, ketika aku sedang menapaki puncak keyakinan sebagai “manusia yang akan sukses besar”, aku punya satu keyakinan lain:
Aku tidak butuh wanita.
Aku benar-benar percaya itu.
Menurutku, wanita hanya akan menghambatku.
Mengalihkan fokusku.
Mengganggu perjalanan besarku menuju mimpi 1 miliar itu.
Aku merasa hidupku adalah tentang kerja keras, uang, dan ambisi.
Cinta? Hubungan? Komitmen?
Itu semua kupikir hanya beban tambahan yang tidak perlu.
Aku sombong,
aku keras kepala,
aku merasa aku bisa menggapai dunia dengan tanganku sendiri.
Dan lucunya, atau mungkin tragisnya.
kejatuhan itu datang di saat aku sedang berada di puncak kesombonganku.
Ketika 200 juta itu lenyap,
ketika aku terhempas dari ketinggian yang kubangun sendiri,
ketika aku merasa dunia mengejekku,
di situlah aku benar-benar sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan dingin yang menembus tulang.
Dingin jurang yang tidak pernah kubayangkan akan kurasakan di usia 21.
Lalu… ia datang.
Bukan sebagai kekasih pada awalnya.
Bukan sebagai seseorang yang menuntut tempat di hidupku.
Tidak.
Ia datang dengan cara yang lebih sederhana, lebih lembut, lebih tulus dari itu.
Ia datang seperti malaikat,
bukan yang bersayap,
tapi yang hadir ketika semua orang lain pergi.
Ia melihatku bukan sebagai “orang yang gagal”.
Bukan sebagai “orang yang jatuh karena keserakahan.”
Bukan sebagai “anak sombong yang akhirnya menerima balasan.”
Ia melihatku sebagai manusia.
Sebagai seseorang yang sedang berusaha keras untuk tidak hancur sepenuhnya.
Jika aku jujur,
kehadirannya waktu itu menyakitkan…
karena ia datang pada saat aku paling rapuh,
saat aku paling malu,
saat aku ingin menyembunyikan diri dari seluruh dunia.
Tapi ia menggenggam tanganku.
Tidak dengan paksa.
Tidak dengan belas kasihan.
Tapi dengan keyakinan lembut yang membuatku bertanya:
“Kenapa seseorang sebaik ini mau menemani aku yang sedang hancur?”
Dalam dinginnya jurang, ia memelukku.
Dan entah bagaimana, pelukannya menghangatkan sesuatu yang bahkan kupikir sudah mati dalam diriku:
harapan.
Ia tidak menyembuhkan lukaku — bukan tugasnya.
Ia tidak membenarkan kesalahanku — ia bukan pahlawan dongeng.
Tapi ia ada.
Dan kehadiran itu membuatku tidak jatuh lebih jauh.
Mungkin aku dulu tidak butuh wanita.
Mungkin aku benar-benar percaya cinta hanya menghambatku.
Tapi ternyata,
yang menolongku bukan uang, bukan ambisi, bukan kesombongan tentang masa depan.
Yang menolongku adalah seseorang yang datang tanpa diminta…
seseorang yang melihatku ketika aku sendiri tidak mampu melihat diriku.
Kadang aku berpikir,
Tuhan memang aneh.
Saat aku merasa paling kuat, aku dijatuhkan.
Saat aku merasa tidak butuh siapa pun, justru seseorang dikirim untuk menyelamatkanku.
Saat aku merasa tidak pantas dicintai, cinta itu datang tanpa syarat.
Dan ketika aku melihat kembali ke masa itu,
aku sadar:
Aku tidak jatuh sendirian.
Dan aku tidak bangkit sendirian.
Wanita yang dulu kupikir akan menghambatku
justru menjadi alasan kenapa aku tidak hilang sepenuhnya.
Ia bukan sekadar hadir, ia menahan jiwaku agar tidak pecah.
Dalam dinginnya jurang itu…
ia memelukku.
Dan mungkin itulah alasan aku masih bisa menulis ini hari ini.
No comments:
Post a Comment