Hari ini aku kembali membuka blog… dan, entah kenapa, perasaan itu muncul lagi: minder.
Aku mulai membaca blog para penulis baru yang tulisannya rapi, estetik, SEO-nya kuat, dan postingannya konsisten. Lalu aku mendadak merasa kecil. Seperti seseorang yang datang terlambat ke sebuah pesta besar, dan semua orang sudah berbaur kecuali aku.
"Apa aku masih relevan?"
"Apa aku masih punya tempat?"
"Apa ada yang mau membaca tulisanku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar seperti tidak mau hilang.
Dan seperti menambah beban, di luar sana AI menulis artikel dalam hitungan detik, membuat outline dalam sepersekian menit, dan menjawab pertanyaan tanpa jeda. Rasanya dunia blogging telah berlari begitu cepat, sementara aku… diam terlalu lama.
Aku sempat berpikir, mungkin aku kembali terlambat.
Mungkin dunia tidak lagi membutuhkan blogger sepertiku.
Tapi lalu aku membaca komentarku yang lama, komentar jujur dari pembaca yang dulu bilang bahwa tulisanku menemani mereka saat sedih, saat bingung, saat mencari arah. Dan di situ aku sadar:
AI bisa menghasilkan tulisan, tapi tidak bisa menghasilkan pengalaman.
Tidak bisa menghasilkan luka, tawa, atau perjalanan hidupku.
Tidak bisa bercerita sebagai “aku”.
Dan justru di situ letak kekuatanku sebagai seorang blogger yang manusia, perspektifku tidak bisa ditiru.
Rasa minder masih ada, jujur saja.
Aku masih suka membandingkan diri dengan blogger lain yang lebih produktif.
Aku masih merasa kaku menulis setelah lama vakum.
Aku masih sering bertanya-tanya, “Apa aku ini cukup?”
Tapi hari ini aku mencoba sesuatu yang baru:
Menerima bahwa aku sedang belajar kembali.
Menerima bahwa aku boleh mulai dari kecil.
Menerima bahwa minder bukan alasan untuk berhenti.
Aku sadar, kebangkitanku ini bukan tentang menjadi yang terbaik.
Bukan juga untuk mengejar ketertinggalan.
Ini tentang merebut kembali ruangku sendiri, ruang menulis, ruang bercerita, ruang bernapas.
Mungkin aku tidak akan langsung konsisten.
Mungkin aku tidak akan langsung percaya diri.
Mungkin butuh waktu.
Tapi itu tidak membuatku kurang berharga sebagai seorang blogger.
Hari ini aku menulis, walau pelan.
Hari ini aku jujur pada diriku sendiri.
Hari ini aku tidak membandingkan diri sekeras kemarin.
Dan mungkin… itu sudah cukup untuk bagian ketiga dari perjalanan ini.
Aku masih minder.
Tapi aku tetap maju, meski langkahnya kecil.
Karena aku percaya, ada cerita yang hanya bisa diceritakan olehku, tidak oleh siapa pun, termasuk AI.
No comments:
Post a Comment